Skip to content

Strategi Trump: Kebencian (Ternyata) Laku Dijual di Amerika

6360139435793044861461393096_donald-trump-prune-face

Pembaca,

Digebuki bertubi-tubi oleh para pembencinya dengan berbagai jurus mematikan, tidak lantas membuat Donald Trump babak belur. Ia malah berjaya mempermalukan mereka dengan memenangi pemilihan presiden Amerika yang dinilai banyak pengamat paling tidak berkualitas gara-gara “adu dosa”nya lebih gaduh ketimbang adu program.

Logika kita seperti terlecehkan ketika mayoritas polling mengindikasikan kekalahan Trump; mayoritas media getol membongkar dosa-dosanya; mayoritas negara “mendoakan”nya kalah; tapi si milyuner kondang justru panen dukungan. Trump percaya diri berlindung dibalik perisai kebencian para pendukungnya.

Bisa dimaklumi jika banyak negara justru berharap Trump menjadi presiden yang “inkonsisten”. Pasalnya, mereka bakal kelimpungan jika Trump benar-benar konsisten menjalankan janji politik proteksionis yang sukses menyulut api kebencian para pendukungnya itu. Laba besar dari perdagangan bebas dengan Amerika bakal tergerus, bahkan hingga ke titik nadir seperti dikhawatirkan para pelaku dan pengamat bisnis.

Tapi bukan soal laba yang menjadi topik kita kali ini, melainkan siasat pragmatis Trump memanfaatkan kebencian sebagian rakyat Amerika yang menilai ketidakbecusan pemerintahan Obama sebagai penyebab gagalnya ekonomi sang negeri adikuasa bangkit dari keterpurukan.

Pembaca, tak perlu kecerdasan ataupun strategi canggih dalam memanfaatkan kebencian massa. Cukup rajin menyulut maka ia akan menghanguskan lawan tanpa ampun, seperti yang diderita partai Demokrat dengan jagoannya Hilary Clinton, sang “presiden” versi polling.

Trump dan tim kampanyenya tidak memiliki strategi komunikasi kampanye yang cerdas (dan beradab), karena mungkin merasa sudah memiliki senjata paling mematikan bernama kebencian. Ia tak hanya memberondong status quo tapi juga kaum minoritas, imigran dan muslim. Sulit dibantah bahwa Trump telah melakukan strategi komunikasi “barbar”.

Lantas, masih adakah sisi positif dari strategi Trump yang bisa kita ambil?

Pembaca, yang bisa kita tiru adalah kemauan Trump dan tim kampanyenya membuka mata dan telinga lebar-lebar sehingga tahu apa yang sebenarnya dikehendaki mayoritas rakyat Amerika di saat penguasa tak menyadarinya atau mungkin tak peduli.

Jadi, simpel saja, Donald Trump—yang kata orang mulutnya enggak pernah disekolahin—bisa berjaya menewaskan sang favorit Hilary Clinton gara-gara ia tahu apa yang dikehendaki sebagian besar rakyat, dan tahu apa kelengahan lawan.

Pepatah “knowledge is power” tampaknya dipahami betul oleh tim kampanye Trump saat merancang strategi komunikasi kampanye bertema “Make America Great Again” ini.

Kejelian tim kampanye Trump menangkap aspirasi rakyat dan kelengahan lawan, bisa jadi menginspirasi banyak tim kampanye para petarung politik di berbagai belahan dunia. Namun, yang terpenting untuk pembelajaran adalah bahwa memanfaatkan virus kebencian dalam strategi komunikasi, hanya akan berbuah kebencian.

Trump pun diyakini banyak pengamat (juga peramal) bakal menginjak ranjau bom kebencian yang ia tanam sendiri. Tinggal tunggu tanggal mainnya, begitu kata dunia.

Redaksi

Foto: librarygrape.com

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved