Skip to content

Mencari Isi “Surat untuk Jakarta” – Film Animasi Terbaik FFI 2016

Dunia animasi Indonesia kembali bergairah sejak Festival Film Indonesia 2013 menyertakan kategori Film Animasi. Sudah puluhan jagoan animasi beradu kebolehan di festival film bergengsi ini. Mereka menyuguhkan karya animasi yang cukup menjanjikan.

Beberapa di antaranya punya potensi untuk lebih meningkatkan diri, tak hanya soal ketrampilan teknis, namun juga ide cerita dan cara bertutur agar kelak bisa bersaing dengan para animator luar negeri.

Di penghujung tahun 2016 ini, Piala Citra untuk karya film animasi terbaik disabet oleh “Surat untuk Jakarta” produksi Pijaru dari Grup Digital Kompas Gramedia, hasil keroyokan trio sutradara Andre Sugianto, Aditya Prabaswara, serta Ardhira Anugrah Putra.

Di antara para pesaingnya, film berdurasi 2 menit ini terlihat menonjol dalam hal gaya rupa dan cara bertutur.

TEMA FILM

Entah kebetulan atau tidak, film-film animasi terbaik pilihan juri dari tahun ke tahun memiliki tema yang berbeda. Jika pemenang 2013 “Sang Suporter” mengangkat tema fantasi humor slapstick; pemenang 2014 “Asia Raya” mengangkat tema perang kemerdekaan; pemenang 2015 “Petualangan Garuda Cilik” mengangkat tema fiksi budaya lokal; maka “Surat untuk Jakarta” sebagai pemenang 2016, mengangkat tema keseharian kota Jakarta.

“Tidak ada yang istimewa dengan temanya, tapi tampaknya bukan pilihan tema yang membuat para juri kepincut film ini,” ujar Sahat Sibarani, praktisi dan pengamat komunikasi visual, alumni Desain Komunikasi Visual ITB.

GAYA RUPA

Untuk urusan gaya rupa – film yang juga meraih Best Picture di HelloFest 2016 ini – diakui cukup berbeda.

Seorang rekan animator senior (yang tidak ingin disebut namanya) menduga gaya grafis-minimalis dengan sentuhan semi-art deco menjadi salah satu faktor pemikat hati juri. Menurutnya, sang sutradara seakan berusaha memotret sisi-sisi keruwetan ibu kota secara keren mirip New York atau Tokyo agar lebih sedap dipandang mata.

Sahat memuji ilustrator “Surat untuk Jakarta” yang ia nilai piawai menggambar struktur bangunan bergaya grafis. Namun sayangnya, obyek-obyek organik seperti manusia digambarkan sebatas impresi saja alias tidak detil dan cenderung kaku. Ditambah lagi gerakan animasi yang terlampau minimalis.

“Itu sebabnya film terasa dingin, minim greget, seolah melintas begitu saja di depan mata penonton tanpa jejak kesan yang kuat,” ujarnya saat menelaah kesan hambar yang dirasakan beberapa rekan KataRupa.

Sahat menuturkan, teknik animasi memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teknik live action dalam hal dramatisasi rupa. Animasi mampu menggambarkan fantasi manusia, bukan sekedar merekam apa yang dilihat oleh mata telanjang.

“Animasi adalah jaring ampuh yang mampu menangkap binatang liar bernama ekspresi dan mempertontonkannya”, lanjut Sahat sedikit berbagi teori.

“Seandainya ‘Surat untuk Jakarta’ mampu merekam kondisi kota Jakarta dengan lebih ekspresif-dramatis, maka kemenangannya pun menjadi sempurna,” tuturnya lagi.

CARA BERTUTUR

Senada dengan Sahat, rekan animator senior menduga cara bertutur tanpa dialog ataupun narator membuat “Surat untuk Jakarta” terlihat menonjol di mata juri dibanding para pesaingnya.

“Hal ini diperkuat dengan musik yang minimalis dan sound effects yang secara jeli ditempatkan di beberapa bagian yang memang layak diisi,” ujar Sahat memuji.

“Tampaknya ‘Surat untuk Jakarta’ menjadikan rupa sebagai panglima dalam bertutur, sementara musik dan sound effects sebagai serdadu pendukung yang tak kalah besar kontribusinya,” analisa Sahat.

Lantas, apakah cara bertutur minimalis seperti ini berhasil menyampaikan pesan yang diinginkan?

PESAN

Baik Sahat maupun rekan animator senior mengaku kesulitan mengidentifikasi pesan dari film ini. Tadinya mereka mengira judul film “Surat untuk Jakarta” mengandung pesan yang ingin disampaikan, bahwa ada isi surat (baca: pesan) yang dikemas dalam rangkaian rupa dan bunyi yang minimalis.

Sahat mengamini beberapa pendapat yang menyatakan judul film dan ceritanya enggak nyambung.

“Jika kurang jeli dan sensitif dalam bertutur model senyap (baca: minimalis) maka pesan yang sengaja dibuat samar-samar justru lenyap tak ketahuan rimbanya,” ujar Sahat yang mengaku pernah mengalami hal yang sama di beberapa karyanya.

“Pepatah ‘a picture is worth a thousand words’ kerap menjadi ayat suci favorit para praktisi kreatif bidang desain komunikasi visual yang umumnya tidak jago bersilat kata. Sah-sah saja, sih… tapi harus dipastikan bisa menyampaikan pesan kita,” nasehat Sahat.

“Jangan malas melakukan riset dan test konsep film kita ke sebanyak mungkin orang untuk menguji apakah pesan kita bisa ditangkap audiences atau tidak,” sambungnya lagi.

Kembali ke pesan film, bagaimana dengan sepenggal tulisan di awal film “Di sini tertanam rindu di sebuah kota yang kupanggil rumah”? Mungkinkah terkandung pesan yang dimaksud pembuat film?

Menurut Sahat, kalimat puitis ini adalah curahan hati sang pencerita sebagai pintu masuk untuk menceritakan kota yang ia anggap rumah dan ngangenin. Namun sayangnya, seperti apa atau mengapa rindu tertanam dan kota dipanggil rumah, tidak terungkap secara implisit apalagi eksplisit.

KESIMPULAN

“Surat untuk Jakarta” diakui cukup menonjol dari sisi gaya rupa dan cara bertutur yang serba minimalis dibanding para pesaingnya, meski tidak ada yang istimewa dari sisi tema.

Selain keindahan rupa, musik dan sound effects yang apik, film ini minim greget ditambah lagi gerakan animasi yang terlampau minimalis, menambah kesan kaku. Dua hal ini berpotensi membuatnya mudah berlalu tanpa kesan saat ditonton.

Antara judul dan cerita tidak saling berkaitan, sementara pesan yang ingin disampaikan tidak begitu jelas.

Namun di luar itu, KataRupa dan para narasumber sangat mengapresiasi upaya tim “Surat untuk Jakarta” menghasilkan karya film animasi yang berbeda dan berkualitas. Semoga kelak bisa berkiprah di dunia internasional.

(KataRupa)

FILM DIRECTOR: Andre Sugianto, Ardhira Anugrah Putera, Aditya Prabaswara
EXECUTIVE PRODUCER: Jerry Hadiprojo
POST PRODUCTION PRODUCER: Christina Levina
COPYWRITER: Getar Jagatraya
SOUNDMIXING: Annas M Arraisy
MUSIC BY: BOTTLESMOKER

Video: Pijaru

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: