Skip to content

Strategi Hillary: Obral Dosa Lawan, “Cuekin” Dosa Sendiri

Pembaca,

Kontroversi Donald Trump menjadi bahan santapan favorit para pengamat dan awak media. Lebih gurih digoreng ketimbang kontroversi Hillary Clinton.

Tak sedikit yang menambahkan beragam bumbu hingga lima rasa sekaligus agar lebih heboh lagi. Walhasil, oplah dan traffic pun (terbukti) melonjak tajam, diiringi laba yang mengucur deras.

Sah-sah saja meraup untung dari “aib” para pesohor politik yang tengah bertarung, karena sejatinya media massa adalah kanvas putih yang dibutuhkan para petarung politik untuk melukis dirinya sendiri.

“Lukisan” diri ini pastinya diharapkan mencerminkan citra baik sang petarung politik. Namun, tak jarang menjadi “senjata makan tuan” akibat salah strategi.

Di sinilah letak keseruan mengulas kontroversi Hillary, yang sebenarnya tak kalah menarik dari kontroversi Donald Trump.

Dalam berbagai kesempatan orasi politiknya, Hillary begitu getol mengobral dosa-dosa Trump. Tak hanya itu, iklan kampanyenya pun didominasi serangan terhadap Trump dengan argumentasi yang boleh dibilang menohok telak.

Bahkan akun “Political Observer” sampai membuat video kompilasinya di Youtube dengan menaruh judul “Most Powerful Political Ads against Donald Trump | Hillary Clinton”.

Tim strategi komunikasi Hillary yang merancang rangkaian iklan ini tampaknya bukan enggak ngeh, tapi sengaja mengabaikan fakta di benak publik bahwa Hillary tidak lebih suci dibanding Trump. Dosanya pun bejibun dan dianggap fatal, bahkan oleh aliansi pendukungnya sendiri.

Untuk sekedar mengingat kembali dosa-dosa apa saja yang dituduhkan kepada Hillary, silakan simak video Youtube milik akun“Top Trending” berikut yang berjudul “10 Things You Didn’t Know About Hillary Clinton”.

Pembaca, KataRupa menilai strategi komunikasi iklan Hillary dirancang dengan nafsu membabi-buta untuk menghabisi lawan. Sekalipun mengangkat fakta-fakta meyakinkan, “rasa” pemilih lebih berkuasa daripada fakta. Terlebih jika dosa tersebut juga tersemat pada dirinya.

Pembelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa strategi komunikasi yang mengobral habis-habisan kelemahan lawan, justru memancing target audiences untuk semakin melihat lebih dalam kelemahan Hillary. 

Kemenangan Trump bisa jadi dianggap bukti bahwa dosa-dosa Hillary lebih tak termaafkan ketimbang dosa-dosa Trump.

Baca juga: Strategi Trump: Kebencian (Ternyata) Laku Dijual di Amerika

Redaksi

Video: Political ObserverTop Trending

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: