Skip to content

Memelihara Minder Kronis di Balik Pemakaian Kata Asing

pohon-minder-kronis

Ilustrasi: KataRupa

Pembaca,

Siang itu KataRupa janjian bertemu seorang sahabat–panggil saja si Gugat–di sebuah kawasan bisnis yang menyontek nama kawasan elit milik sebuah negara maju.

Gugat sebenarnya enggan menginjakkan kakinya di kawasan ini yang ia yakini menjadi salah satu bukti bahwa “penjajahan” di bumi Indonesia masih terus berlangsung. Namun ia tak punya pilihan lain karena harus bertemu bosnya di sini juga, sejam lagi.

“Lama-lama enggak ada yang pake bahasa Indonesia lagi,” gerutu Gugat sambil membaca nama kawasan yang tertera di menu kafe. “Enggak cuma tempat orang hidup, kawasan kuburan aja udah pake nama tempat negara lain!” sambungnya geram.

Gugat menunjuk hidung para penjajah sebagai biang keladi mindernya bangsa Indonesia, sementara para pengembang maha tajir sebagai antek-anteknya.

Namun sejurus kemudian ia hanya bisa terdiam ketika KataRupa menyampaikan pendapat beberapa orang yang mengatakan bangsa Indonesia itu minder bukan karena lama dijajah, tapi karena dari sono-nya memang sangat mengagumi bangsa lain sehingga minder dengan jati dirinya sendiri. Akibatnya, gampang dijajah hingga ratusan tahun.

Terlepas dari perdebatan di atas, mesti kita akui, rasa minder kronis yang menghinggapi sebagian konsumen Indonesia itu memang nyata adanya. Hal ini tercermin lewat laris manisnya beragam properti yang memakai nama asing (baca: luar negeri).

Salahkah para pengembang yang getol menamai produk propertinya dengan kata-kata asing?

Dari sisi nasionalisme, bisa jadi divonis bersalah. Namun dari sisi bisnis, justru dianggap benar dan pintar. Dalihnya, rumus marketing – melayani keinginan atau selera konsumen yang merasa lebih bangga dan terhormat tinggal di kawasan bernama asing.

Para pengembang seolah memelihara rasa minder kronis para konsumen Indonesia. Bahkan, kian hari kian getol seiring kian menjamurnya produk-produk mereka di bumi Indonesia. Apa yang mereka lakukan diklaim atas nama taktik marketing.

Seperti dilansir Kompas.com, Selasa (29/9/2015), Anwari Natari mengatakan, pemerintah tidak bisa mengontrol fenomena memprihatinkan ini. Pakar Bahasa Indonesia ini membandingkannya dengan era Soeharto di mana semua produk dan jasa harus menggunakan bahasa Indonesia.

Pembaca, daripada hanya mengumpat dan menyesali “penjajahan” citra asing yang kadung tumbuh subur ini, bagaimana jika Pembaca memulai “perlawanan” dengan menciptakan nama merek properti berbahasa Indonesia? Siapa tahu ada pengembang besar yang tergugah dan tertarik untuk “menghargai” karya Pembaca.

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: