Skip to content

“Westworld” (2016): Saat Manusia Boleh Berlaku Biadab

465_1266x508

Screenshot hbocanada.com

Para sineas barat seolah tak kunjung lelah menjual fantasi kepada khalayak dunia, mulai dari yang ‘jinak’ bikin ngakak, sampai yang ‘liar’ bikin otak nanar. Fantasi berbumbu sains, atau sering disebut science fiction, adalah menu paling laris manis dibanding genre lainnya.

KataRupa mencatat paling tidak ada dua film fantasi layar lebar populer yang berkonsep hasrat menjadi Tuhan; “Bruce Almighty” (2003) dibintangi Jim Carrey, dan “Click” (2006) dibintangi Adam Sandler. Keduanya tentu saja tak bebas dari kekonyolan kedua bintang komedi papan atas yang lihai mengocok perut ini.

Lewat dua film ini, konsep ketuhanan yang sarat kontemplasi dan sangat personal menjadi tontonan yang menghibur, jauh dari kesan serius. Pulang nonton, selesai. Tak perlu penasaran, tak perlu berujung diskusi ‘berat’ di luar bioskop seperti jika melahap film yang menguras pikiran.

Serial TV “Westworld” yang mulai dirilis awal Oktober 2016 memilih berbeda arus dengan dua film di atas. Film seolah menawarkan pilihan reaksi saat menontonnya; sebatas terhibur saja, atau plus mikir keras. Pasalnya, isinya campur sari; sarat dar der dor khas Hollywood, diselipi humor, dan dibungkus misteri yang menguras pikiran.

Versi serial TV yang telah memasuki penghujung season 1 ini, tampaknya tidak merasa perlu mengubah banyak jalan cerita dari versi layar lebar yang dirilis tahun 1973 besutan sutradara Michael Crichton.

Bagi yang belum pernah menyaksikannya, TV Series besutan sutradara Jonathan Nolan ini telah berjaya menyabet rating 9.1/10 IMDb dan 9/10 TV.com. Sungguh angka yang nyaris sempurna untuk jaminan mutu film.

“Westworld” berkisah tentang taman hiburan yang tak lazim di mana hanya kaum berduit yang bisa ‘bermain’ di dunia cowboy buatan ini. Mereka boleh sesuka hati melampiaskan segala hasratnya kepada para manusia jadi-jadian, yaitu para robot dengan kecerdasan buatan super canggih.

Seperti juga di jutaan games di dunia nyata; menembak, mencincang, membantai sesadis-sadisnya adalah favorit para tamu. Bedanya, di “Westworld” dilakoni secara real, ada kontak fisik, termasuk saat melampiaskan nafsu birahi ke berbagai tipe perempuan android nan aduhai.

Jika surga sekaligus neraka buatan ini benar ada di dunia nyata, sudah pasti bakal menimbulkan antrian panjang calon tamu dari seluruh dunia, yaitu para kaum berduit yang ‘sakit jiwa’.

Semakin jauh episode yang kita saksikan, semakin kita percaya bahwa para pemeran android yang sering tampil bugil ini adalah robot tulen. Itulah hebatnya para sineas barat memanipulasi kesadaran penonton lewat ide cerita, teknik film dan akting para aktor-aktris Hollywood yang terkenal total dalam berlakon.

Baca juga: Hingga Akhir 2016 Belum Ada Film Seri TV Sekelas “Breaking Bad”

Bertaburnya bintang kawakan seperti Anthony Hopkins peraih Oscar dan Ed Harris peraih Golden Globe, seakan membuat euphoria TV Series lain seperti “Game of Thrones” dan “The Walking Dead” cepat memudar.

Sejauh episode yang telah berjalan, tampaknya film ini ingin menyampaikan pesan bahwa sehebat apa pun manusia berusaha meniru kekuasaan Tuhan, ia tetap tidak bisa menjadi Tuhan. Manusia hanya pandai meniru setan dengan sempurna.

Kesan awal, “Westworld” bakal menghadirkan kekacau-balauan sebagai buah dari upaya manusia menjadi Tuhan. Namun, kesan awal bisa saja salah mengingat episode masih panjang dan bisa jadi dipanjang-panjangkan seiring jumlah penggemar yang terus bertambah.

Seperti biasa–dan begitu aturan mainnya–hanya pengarang cerita (dan pemodal film) yang tahu apa sesungguhnya yang akan disampaikan. Karena itu, lebih baik kita pelototi terus setiap episodenya, untuk sekedar menghibur diri ataupun sekalian mengasah daya pikir dan imajinasi kita.

(Sah/KataRupa)

Video: HBO

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: