Skip to content

Menyoal Tema ENNICHISAI 2016 Jakarta, Festival Budaya Jepang Terbesar di Dunia

ennichisai-2016-1

Barangkali mereka yang tinggal di Jakarta hingga Bandung dan sekitarnya sudah tidak asing lagi dengan perhelatan akbar berjuluk Ennichisai ini.

Bagi yang belum kenal, Ennichisai adalah festival tahunan budaya Jepang yang meliputi seni dan kuliner, baik tradisional maupun modern. Diadakan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, yang dijuluki “Little Tokyo”.

Setiap tahunnya Ennichisai dibanjiri lebih dari 200 ribu pengunjung, sehingga diklaim sebagai event budaya Jepang terbesar di dunia. Potensinya yang menggiurkan ini tampaknya menjadi alasan Pemkot Jakarta Selatan untuk menjadikannya agenda tahunan.

Selain aksi para pegiat seni dan kuliner Jepang, kehadiran para cosplayer asal Indonesia seakan menjadi trademark Ennichisai. Tanpa cosplayer, serasa makan tanpa garam, demikian menurut para pengunjung setia.

img-3117medium_large-2x-1472021988

Senyum sumringah gadis cantik cosplayer dengan kostumnya yang memikat mata pengunjung Ennichisai 2016, Blok M, Jakarta (15/5/2016). (Foto: Sahat)

img-3030medium_large-2x-1472021985

Berpose ala karakter favorit, mengundang mata lensa para pemburu foto Ennichisai 2016, Blok M, Jakarta (15/5/2016). (Foto: Sahat)

Saat kita googling, deretan informasi tentang Ennichisai telah banyak terekam, menandakan Ennichisai telah cukup dikenal di dunia maya.

Nah, yang menarik untuk kita bedah dari event “Jepang banget” ini bukan kontennya, namun tema 2016 yang dipilih, “Miracle, Power of Love”. KataRupa menilai ada “Jaka Sembung” alias hal yang enggak nyambung di tema berbahasa Inggris ini (meski event ini diklaim serba Jepang).

Sahat Sibarani, pengamat dan praktisi komunikasi yang kebetulan merekam event dengan lensa kameranya, mendeteksi hal yang sama. Pasalnya, tidak ada satu penampakan pun dalam event ini yang merefleksikan “Miracle, Power of Love”.

“Iya, betul… temanya ke kiri, eksekusinya ke kanan,” ujar Sahat sepakat.

Yang nyata-nyata terlihat dan terasa adalah para penjual makanan, minuman, serta pernak-pernik Jepang, berteriak memanggil-manggil para calon pembeli, layaknya pedagang. Lalu hingar bingar dentuman dan lengkingan vokal sederet band Jepang, layaknya konser musik. Kemudian parade budaya tradisional Jepang, layaknya parade budaya. Diselingi street catwalk ala cosplayer yang tentunya memancing pengunjung untuk ber-wefie ria. Serta ratusan ribu penonton pengagum budaya Jepang yang berjejal antusias.

img-3386medium_large-2x-1472021995

Asik ber-wefie ria dengan latar belakang band asal Jepang yang sedang beraksi di Ennichisai 2016, Blok M, Jakarta (15/11/2016). (Foto: Sahat)

“Tema pada akhirnya seolah cuma menjadi rangkaian kata indah pelengkap saja,” simpul Sahat. Menurutnya, kealpaan seperti ini jamak terjadi di event apa saja dan sering berulang.

“Karena memang tidak ada ‘sanksi’ dari penonton yang juga enggak terlalu peduli tema,” sambung Sahat. “Bagi penonton yang penting hepi-hepi, dapet yang dicari,” tegas Sahat lagi.

Namun KataRupa masih penasaran, masak sih tema dibuat sekenanya, asal terdengar indah.

KataRupa mencoba menelusuri asal mula tema dan menemukannya di Harian Halo Jepang Edisi Khusus, Kamis (12/5/2016). Dinyatakan bahwa tema “Miracle, Power of Love” adalah untuk mempererat kasih di antara pengunjung event dan juga mempererat tali persahabatan Indonesia-Jepang.

“Mempererat kasih di antara pengunjung? Wong pengunjung yang ratusan ribu itu datang buat nonton dan belanja, bukan buat saling berkasih-kasihan. Agak berlebihan sih,” kritik Sahat.

“Mempererat tali persahabatan antar dua negara okelah, karena orang Indonesia jadi tambah gandrung budaya Jepang sehingga bisnis Jepang pun tambah sukses di Indonesia,” pendapat Sahat.

Masih di harian yang sama, Takeya Daisei–ketua panitia pelaksana Ennichisai 2016 yang juga pemilik beberapa restoran Jepang di Blok M–berusaha mengaitkan tema “Miracle” dengan beberapa fakta yang ia sebut ajaib; event besar sudah berlangsung 6 kali tanpa kecelakaan besar, kerjasama dengan banyak pihak, dan dukungan pengunjung serta sukarelawan.

Tetep enggak nyambung karena ‘keajaiban-keajaiban’ itu cuma beliau saja yang bisa rasakan. Pengunjung taunya ini event budaya Jepang besar-besaran, tak lebih tak kurang,” pendapat Sahat lagi.

Lantas, bagaimana dong agar tema dan eksekusi event bisa nyambung?

Bagi Sahat tema “Miracle, Power of Love” yang dianggap “Jaka Sembung” ini, tidak lantas membuat Ennichisai 2016 kehilangan penggemarnya. Terlalu jauh kalau menyatakan demikian.

Namun tema yang pas alias nyambung, apalagi insightful dan unik, bakal memberi makna yang lebih dalam untuk mengikat penggemar secara emosional. Dengan catatan, tema tersebut harus terefleksikan dalam eksekusi event.

“Ennichisai harus diperlakukan sebagai brand bukan sekedar komoditas tontonan saja. Suntikkan values yang pas dengan target audiences, salah satunya pada tema, agar event dimaknai sebagai bagian dari lifestyle penonton bukan sekedar keriaan sesaat saja,” tutur Sahat berbagi saran.

“Tak usah malu-malu, kaitkan saja temanya dengan insight target pengunjung yang memang gandrung berat segala sesuatu berbau Jepang. Mereka ingin mengalami sensasi berada di Jepang bahkan jadi orang Jepang lewat lagu, kuliner dan pernak-pernik khas Jepang,” saran Sahat lagi.

“Mungkin tema yang cocok seputar ‘how Japan can you go’ mengingat Ennichisai tambah tahun tambah Jepang banget,” pungkas Sahat menutup bedah singkat kali ini.

Selamat merancang tema dan konsep event untuk 2017 nanti, Ennichisai! Semoga tambah seru dan melekat di hati.

(KataRupa)

Logo: japanesestation.com

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: