Skip to content

“Last-Minute Souvenir”, Seni yang Memberi Solusi

Pembaca,

Citra Pariwara sejatinya adalah pertarungan kolosal para pendekar kreatif periklanan di negeri yang tengah getol menggali potensi ekonomi kreatif ini.

Para pendekar kreatif iklan dari berbagai penjuru Indonesia (meski didominasi Jakarta dan sekitarnya) turun gunung mengadu kesaktian di ajang yang diliput berbagai media arus utama.

Terbayang betapa bergengsinya ajang unjuk diri ini saat disaksikan jutaan pasang mata seantero negeri (jika memang ditonton), terutama para pemburu bakat atau head hunter. Dampaknya, bursa pendekar kreatif menjadi lebih riuh dari biasanya.

Para pendekar yang telah divonis sakti mesti siap dibajak agensi periklanan lain. Namun tak sedikit yang enggan pindah ke lain hati karena gaji mereka buru-buru dinaikkan hingga angka yang menggiurkan. Tentu saja agensi tak mau kehilangan mengingat di Indonesia pendekar kreatif iklan nan sakti masih segelintir saja.

Para hakim Citra Pariwara tahun ini akan segera mengetuk palu vonis. Siapa saja jawaranya, silakan pantau di 2016.citrapariwara.org. Namun, buat pembelajaran kita, alangkah baiknya jika menengok sebentar ke tahun 2015 lalu.

Di Citra Pariwara 2015 lalu telah lahir sebuah karya kreatif yang patut diacungi 2 jempol berjuluk “Last-Minute Souvenir”. Dompet koin besutan agensi J. Walter Thompson (JWT) ini berjaya menyabet Best Direct PromotionBest Unconventional Media dan menurut KataRupa layak pula dianugerahi “Best of the Best” dari semua kategori.

JWT, agensi asal negerinya Donald Trump ini, berhasil mengembalikan fungsi desain pada tempatnya, yaitu “seni yang memberi solusi”. Karena seperti kita pahami bersama, desain adalah seni terapan untuk menjawab permasalahan. Jadi, desain bukanlah “l’art pour l’art” atau seni untuk seni yang hanya dipajang lalu dipandang demi kepuasan batin semata.

Pembaca, tak sedikit karya pemenang Citra Pariwara dan kompetisi sejenis, hadir sebatas asik dipandang, bikin orang tersenyum, lantas membuat sang kreator bangga.

Menurut beberapa pengamat – dan KataRupa pun sependapat – fenomena ini terjadi karena kompetisi iklan oleh sebagian insan kreatif dijadikan ajang “balas dendam” akibat para klien yang alergi ide-ide award winning. Sekalipun, uniknya, beberapa dari klien ini sangat mengagumi karya-karya pemenang kompetisi luar negeri, bahkan “menitahkan” agensi untuk menjadikannya referensi (seperti dikeluhkan beberapa rekan praktisi iklan).

Akibat luapan kreativitas yang tak diakomodasi klien, beberapa kreator iklan pun langsung melancarkan jurus “pendekar mabuk” saat membuat karya untuk ajang kompetisi iklan. Prinsip-prinsip iklan yang harus “menjual” pun diterabas karena dianggap menodai kesucian kreativitas. Jadilah iklan kreatif untuk (sekedar) kreatif.

Kembali ke dompet koin “Last-Minute Souvenir”, permasalahan timbul dari kebiasaan turis yang melupakan bahkan membuang uang koin rupiah (kita pun sering melakukannya). Di sisi lain, pemerintahan Jokowi lagi getol-getolnya mencari cara menjual keunikkan alam dan budaya Indonesia.

Bagai gayung bersambut, diciptakanlah souvenir berupa tempat menyimpan koin-koin terlantar ini. Setiap dompet berisi informasi tentang gambar kekayaan alam dan budaya Indonesia yang ada di masing-masing koin.

Dengan demikian, para turis diharapkan tergugah membaca isi dompet yang punya ilustrasi memikat ini dan menjadikan koin recehan Indonesia layaknya collectible items yang punya nilai.

“Last-Minute Souvenir” adalah seni yang memberi solusi.

Maka, tak berlebihan jika kita berharap di Citra Pariwara selanjutnya, para pendekar kreatif iklan berduyun-duyun memboyong karya-karya mereka yang memberi solusi, bukan sebatas karya seni pemuas diri. Sementara para juri pun bersedia memberikan porsi besar pada poin problem solver dalam kriteria penilaian.

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: