Skip to content

Doyan Syuting di Luar Negeri Tanda Tidak Nasionalis?

poster-film-setting-luar

Pembaca,

Tampaknya para sineas kita tengah kasmaran berat dengan rumput tetangga. Ini terlihat dari maraknya film-film berlatar luar negeri, bak banjir di musim hujan.

Beberapa film menyematkan nama negara di judul film yang sama dengan judul novel yang diangkat, seperti: “Bulan Terbelah di Langit Amerika”, “99 Cahaya di Langit Eropa”, “Assalamualaikum Beijing”, “Surat dari Praha”, “Negeri Van Orange” (julukan untuk Belanda), “London Love Story” dan “Love Sparks in Korea”.

Ada juga yang memajang landmark negara lokasi syuting selain bintang utama di poster film dengan judul tanpa nama negara, diantaranya; “Ketika Cinta Bertasbih”, “Runaway”, “This is Cinta”, dan “Mars”.

Sementara film fenomenal seperti “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ada apa dengan Cinta” cukup percaya diri dengan hanya memajang bintang utama pada poster film masing-masing.

Tak hanya latah syuting di negeri orang, tema mayoritas film pun yang itu-itu juga, kalau bukan soal cinta, ya religi berbalut cinta.

Situs online bintang.com (16/10/2015) dengan gamblang menulis bahwa syuting film di luar negeri lebih murah dan indah. Fakta ini didapatkan saat bintang.com mewawancarai Ody Mulya Hidayat – Produser Maxima Pictures, dan Chand Parwez Servia – Produser Starvision Plus, saat peresmian APFI di Hotel Mulia, Jakarta Selatan.

Seperti dilansir bintang.com, Ody Mulya mengeluhkan ribet dan mahalnya biaya perizinan di Indonesia. Ia bahkan mencontohkan syuting di Stasiun Jakarta Kota (yang disebutnya kotor) mesti menggelontorkan ratusan juta rupiah. Tak heran jika banyak produser yang berduyun-duyun syuting di luar negeri karena lebih murah dan landscape-nya yang menarik serta indah seperti Eropa.

Kepada bintang.com, Chand Parwez menjawab lebih diplomatis. Ia mengaku lebih suka syuting di dalam negeri karena sebenarnya banyak tempat yang menarik. Tapi aturan yang merepotkan di Indonesia membuatnya memilih syuting di luar negeri.

Situs clear.co.id (25/7/2014) berbeda pandang. Menurut situs ini, syuting di luar negeri justru lebih mahal tapi hasilnya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Penonton pun bisa menikmati pemandangan indah negeri orang.

Masih di clear.co.id, sutradara “Runaway”, Guntur Soeharjanto punya alasan tersendiri kenapa lebih suka syuting di luar negeri.

Berdasarkan pengalamannya, syuting di Asia lebih susah (tanpa menyebut Indonesia) karena semua titik lokasi berarti uang. Umumnya orang Asia, termasuk Indonesia, suka mengerumuni lokasi syuting sehingga merepotkan. Berbeda dengan orang Eropa yang cuek jika ada syuting, jadi tidak merepotkannya.

Pembaca, tak sedikit yang mencibir para sineas ini. Mereka dituduh tidak nasionalis. Namun, para pencibir lupa atau mungkin tidak paham bahwa film adalah industri bisnis, bukan lembaga sosial, meski ada segelintir sineas yang mencoba kukuh menempatkan idealisme dulu, bisnis kemudian.

Para sineas pelaku syuting di luar negeri tentu saja melakukan taktik dagang untuk memikat penonton Indonesia, yang tak bisa kita pungkiri, sangat gandrung luar negeri. Ukuran yang dipakai bukan nasionalisme tapi neraca laba-rugi.

Rumput tetangga memang lebih hijau bagi banyak orang Indonesia, maka film berlatar luar negeri berarti laba di depan mata, meski kelatahan menahun ini menyiratkan miskinnya kreativitas.

Jadi, jika kita berada di posisi para sineas ini, akankah menolak para tuan dan nyonya pemilik modal yang menawarkan pembuatan film berlatar negeri orang?

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: