Skip to content

Indonesia 2016: Atribut Polisi dan Jokowi yang Bikin Gagal Fokus

Pembaca,

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atribut adalah tanda kelengkapan (berupa baret, lencana, dan sebagainya) dan sifat yang menjadi ciri khas (suatu benda atau orang). Dengan kata lain, atribut adalah benda penanda dan sifat tertentu yang menjadi ciri khas suatu benda atau seseorang.

Atribut yang telah menjadi ciri khas, diamini khalayak ramai karena secara konsisten dan dalam kurun waktu lama melekat pada diri seseorang. Pelekatan bisa dilakukan secara sengaja oleh yang bersangkutan ataupun oleh penilaian publik.

Jelas sekali, atribut sebagai penanda ciri khas adalah juga media komunikasi untuk menyampaikan pesan siapa saya atau dia.

Atribut bisa berupa benda yang dikenakan, sikap, perilaku hingga pola pikir dan filosofi hidup. Namun kebanyakan orang –hal yang boleh dibilang manusiawi–lebih tertarik pada benda yang dikenakan seseorang. Masuk akal, karena benda itu kasat mata sehingga gampang dicerna.

Menurut catatan KataRupa, paling tidak ada dua pelakon peristiwa di 2016 yang atributnya paling diributkan para netizen Indonesia, yaitu: Polisi Anti Teror dan Presiden Jokowi.

Sepatu Polisi “Bom Sarinah”

Entah siapa yang memulai, peristiwa “Bom Sarinah” 14 Januari 2016 lalu, justru “ditunggangi” para pengagum atribut polisi yang tengah bertugas menumpas aksi teror.

Banyak yang geleng-geleng kepala dengan ulah para netizen ini. Pasalnya, mereka dianggap lebih peduli atribut ketimbang substansi (ancaman besar teror), istilah kekiniannya “gagal fokus”.

646x323-inilah-tas-dan-sepatu-yang-diburu-berkat-2-polisi-bom-thamrin-tak-hanya-siaga-melumpuhkan-para-teror

Atribut 2 polisi yang tengah bertugas menumpas teroris bom Sarinah pada 14 januari 2016 lalu menjadi viral. (Sumber: sooperboy.com)

Namun, tak sedikit pula yang seiya sekata mengekspresikan “kegagalan fokus” mereka, yang justru lebih eksis di media sosial dibanding mereka yang prihatin.

Jaket Jokowi “Demo 411”

Tak kalah ributnya, para netizen–yang tentunya terbantu juga oleh pemberitaan berbagai media–justru lebih menyimak jaket yang dikenakan Jokowi, ketimbang apa yang disampaikan beliau dalam konferensi pers terkait demo 4 November 2016 lalu. Bahkan, sampai dibuatkan semacam tebak-tebakan berantai soal merek dan harga jaket yang bergaya kasual ini.

2016_11_05_15418_1478314566-_large

Penampilan Presiden Jokowi yang tampak berbeda dengan jaket kasualnya saat menyampaikan pernyataan terkait demo 4 November 2016 lalu. (Foto: Antara Photo/Puspa Perwitasari. Sumber: thejakartapost.com)

Imbasnya, para pedagang jaket yang dkenakan Jokowi mendulang untung yang tak terduga, meski yang dijual adalah versi tiruannya. Bagus juga, karena di satu sisi bisa meningkatkan pendapatan mereka, meski tentunya tak sebesar yang diraup pedagang besar yang menjual merek asli.

Pembelajaran

Lantas, salahkah para netizen penyuka atribut yang dinilai “gagal fokus” ini?

Tentu saja tergantung “kacamata” yang digunakan masing-masing orang; jika kacamata “prihatin” yang dipakai, maka jadilah dianggap memprihatinkan; jika kacamata “hepi-hepi joy-joy”, maka fun-fun saja; jika kacamata “ora mikir”, tentu saja ogah ngebahas yang beginian.

Namun bagi kita, pembelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa atribut–dalam banyak hal dan bagi orang-orang tertentu–bisa lebih dahsyat ketimbang esensi atau substansi sebuah pesan.

Dalam hal misalnya komunikasi iklan, motor sport yang dikendarai bintang iklan bisa lebih melekat di hati target sasaran ketimbang minuman ringan sebagai produk yang ditawarkan.

ilustrasi-iklan-gagal-fokus

Contoh ilustrasi iklan minuman yang “gagal fokus” (Ilustrasi: KataRupa)

Karena itu, jangan menggunakan atribut yang justru terlalu dominan hingga mengalahkan produk atau jasa yang kita tawarkan, jika target sasaran kita adalah tipe yang “gagal fokus” saat melihat atribut yang mereka gandrungi.

Pembelajaran lainnya, kontradiksi karakter atribut dan pemakainya bisa menjadi penarik perhatian yang dahsyat. Sosok polisi dan kepala negara yang (umumnya) tampil formal, menjadi trending topic ketika suatu saat mendadak beratribut kasual.

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: