Skip to content

Political Cosplay, Suporter atau Hater?

Pembaca,

Seperti tertulis di Wikipedia, “cosplay” adalah singkatan dari “costume play”. Ia adalah bagian dari pertunjukan seni di mana para peserta yang dijuluki “cosplayers”, memakai kostum berikut aksesorisnya untuk merepresentasikan karakter tertentu.

Biasanya karakter favorit para cosplayers berasal dari manga, anime, komik, kartun, video games, film, dan TV Seri.

Istilah cosplay pertama kali didengungkan oleh Nobuyuki Takahashi dari Studio Hard pada tahun 1984, saat ia menghadiri World Science Fiction Convention (Worldcon) di Los Angeles. Dalam bahasa Jepang ia menyebutnya kosupure (コスプレ); kosu adalah costume, dan pure adalah play.

Pada prakteknya, dunia cosplay didominasi oleh karakter-karakter dari manga dan anime yang memang kaya imajinasi. Tak heran, cosplay jadi begitu identik dengan Jepang.

z674gcv7dncj7oedqxdy

Cosplay Jepang. (Foto: 3djuegos.com)

Namun, cosplay tampaknya tidak lagi eksklusif milik dunia dongeng sciene fiction saja, tapi juga dunia politik. Paling tidak gejala ini terungkap lewat tulisan Matt Novak, penulis Paleofuture blog.

Dalam tulisannya yang bertajuk “Donald Trump Cosplay is the Future of America Politics” di gizmodo.com.au, Matt Novak seolah menyindir Trump sebagai badut politik yang berdampak buruk pada masa depan politik Amerika (tampaknya para penulis tak pernah kehabisan ide menulis tentang Trump).

Terlepas dari penilaian subyektifnya terhadap Donald Trump, Matt Novak mengungkap fakta, yang menurut KataRupa, menarik untuk dipertimbangkan oleh mereka yang berencana menggunakan cosplay tokoh politik lawan dalam aktivitas politiknya.

Lewat foto berikut ini, Matt mencontohkan bahwa publik bisa tersesat saat memaknai aksi seorang atau sekelompok political cosplayer. Maksud hati memprotes Trump dengan memakai cosplay-nya namun justru dimaknai publik sebagai mendukung Trump.

Donald Trump Holds Campaign Rally In Burlington, VT

Pemrotes atau pendukung Trump? (Foto: Scott Eisen/Getty Images. Sumber: gizmodo.com.au)

Menurutnya, publik tidak bisa membedakan mana yang mendukung mana yang menentang ketika cosplay politikus tertentu digunakan. Publik cenderung menganggapnya sebagai pendukung. Alih-alih diserang, popularitas sang tokoh politik malah semakin moncer.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa dalam sebuah pertarungan politik, ide penggunaan cosplay tokoh politik yang menjadi seteru, bisa jadi menyedot perhatian publik.

Namun, jika ia dieksekusi (diterapkan) ke dalam media dua dimensi seperti foto di atas dan tanpa disertai keterangan kontra terhadap tokoh politik yang diperankan, maka justru akan berbalik menjadi suporter bagi lawan.

Redaksi 

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: