Skip to content

Hingga Akhir 2016 Belum Ada Film Seri TV Sekelas “Breaking Bad”

Pembaca,

Judul di atas bisa jadi membuat gerah para penggemar film seri TV “Game of Thrones”. Pasalnya, berdasarkan data IMDb per hari ini, baik “Breaking Bad” maupun “Game of Throne”, sama-sama bertengger di puncak atas IMDb Rating dengan angka nyaris sempurna 9.5/10. Sementara urusan votes, “Game of Throne” lebih unggul 163.898 suara.

Tidak bisa dipungkiri, dalam menilai sebuah film, subyektivitas pemberi nilai turut berperan sekalipun parameter yang digunakan obyektif dan terukur. Unsur selera pribadi seringkali menjadi hakim penentu.

Namun, untuk mengupas kelebihan (atau kekurangan) sebuah film, tetap dibutuhkan parameter (yang masuk akal) agar tidak dicap asbun mengada-ada. Tentu tanpa menafikan adanya subyektivitas penilai.

KataRupa menilai paling tidak ada tiga kelebihan “Breaking Bad” yang membuatnya menjadi film paling berkelas hingga penghujung 2016 ini.

Kesederhanaan Eksekusi

Jika dihadapkan persoalan efisiensi budget film, “Breaking Bad” (2008 – 2013) patut diacungi dua jempol. Teknik CGI (Computer-Generated Imagery) yang sejatinya menguras kocek produser, dipakai seminim mungkin. Berbeda dengan film seri lain ber-genre fantasi (sci-fi) yang menjadikan CGI roh-nya film. “Game of Throne” termasuk di antaranya.

Heavy CGI berarti heavy budget, yang bisa jadi membuat umur sang produser lebih pendek akibat stres berat mencari dana dan mesti ekstra ketat mengawasi penggunaannya. Para sineas menjadi sangat tergantung pada teknologi ketika teknologi menjadi panglima produksi film.

Di saat genre fantasi yang sarat teknologi CGI mendominasi pasar film seri TV, “Breaking Bad” hadir dengan kesederhanaan eksekusinya. Ia memotret setting keseharian layaknya kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada efek-efek visual yang membuat penonton berdecak kagum.

Namun pilihan menjadi sederhana ini bukan tanpa beban, ada harga yang harus dibayar, yaitu film harus punya konsep dan ide cerita yang kuat serta akting para aktor yang mampu menyihir agar bisa mengalahkan pesona teknologi CGI.

Konsep Cerita

Tidak ada hal baru dari sisi tema, cenderung klasik, tentang sisi humanis seorang kriminal pengedar narkoba yang “terpaksa” melawan hukum karena desakan ekonomi.

Sudah banyak film yang menghadirkan panggung sejenis, termasuk film seri TV “Weeds” (2005 – 2012) karya Jenji Kohan, yang juga banyak mengoleksi Awards, di antaranya; 2 “Satellite Awards”, 1 “Golden Globe Award”, “Writer Guild of America Award”, “Young Artist Award”, dan 2 “Emmy Awards”.

“Weeds” nyaris saja membuat Vince Gilligan, sang kreator “Breaking Bad”, patah arang. Pasalnya, premise “Breaking Bad” sudah lebih dulu dipakai “Weeds”. Untunglah jajaran produser mampu meyakinkan Gilligan bahwa idenya berbeda.

Meski temanya nyaris “basi”, Vince Gilligan mampu membuat konsep yang melawan arus. Jika umumnya film seri TV setia mempertahankan karakter tokoh utama hingga akhir episode, ia justru tergelitik menampilkan tokoh dengan karakter yang bisa berubah.

Seperti terekam di Wikipedia, Gilligan mengubah karakter tokoh utama Walter White (Bryan Cranston) dari tadinya “Mr. Chips” menjadi “Scarface” – tokoh yang dicintai menjadi dibenci karena kejahatannya. Perubahan terasa mulai season keempat.

Mengubah tokoh protagonis menjadi antagonis adalah kekuatan konsep dari film seri yang mendapat predikat “the greatest television series of all time” ini. Tentu saja, konsep tinggal konsep jika tidak mampu dilakoni oleh akting yang mumpuni dari para aktornya.

Kekuatan Akting

Bryan Cranston yang memerankan Walter White sang guru kimia, dan Aaron Paul yang memerankan Jesse Pinkman sang mantan murid, adalah ‘CGI’-nya film ber-genre crime drama ini. Mereka berdua menjadi mantra sakti yang mampu menyihir penonton, meski beberapa aktor dan aktris pendukung lainnya juga bermain apik.

Saking dahsyatnya akting keduanya, penonton pun bersimpati bahkan bisa jadi dalam hati ‘merestui’ aksi kriminal guru dan mantan murid ini. Sampai akhirnya Gilligan harus ‘menyadarkan’ penonton bahwa memproduksi meth (sabu-sabu) adalah kejahatan yang harus dihentikan, apa pun alasannya. Ini ditandai dengan terhentinya aksi White di akhir cerita.

Awalnya pemilihan Bryan Cranston oleh Gilligan ditolak para pejabat AMC Networks – TV channel tempat film ini tayang. Mereka meragukan Cranston yang dinilai berakting super lebay sebagai Hal di serial komedi “Malcolm in the Middle”.

AMC menawari aktor John Cusack serta Matthew Broderick. Ketika keduanya menolak, AMC akhirnya bersedia meng-casting Cranston setelah melihat perannya di episode “X-Files” sebagai anti-Semite yang menyandera tokoh Fox Mulder.

Bryan Cranston membuktikan kualitas aktingnya dengan membukukan empat kali “Emmy Award for Outstanding Lead Actor in a Drama Series”. Sementara Aaron Paul berhasil menyabet tiga kali “Primetime Emmy Award for Outstanding Supporting Actor in a Drama Series”.

Saking memukaunya akting Aaron Paul, Gilligan sang penulis cerita ‘terpaksa’ membatalkan kematian tokoh Pinkman di akhir season pertama. Sebuah keputusan yang sangat tepat karena hingga akhir cerita akting Paul terbukti membuat penonton semakin tersihir.

Pembaca, dengan tiga kekuatan di atas, “Breaking Bad” memang layak menimbun banyak awards bergengsi; 16 “Primetime Emmy Awards”, 8 “Satellite Awards”, 2 “Golden Globe Awards”, 2 “Peabody Awards”, 2 “Critics’ Choice Awards”, dan 4 “Television Critics Association Awards”. Bahkan di 2013 mencetak “Guinness World Records” sebagai “the most critically acclaimed show of all time”.

Tiga tahun sudah sejak episode pamungkas berjudul “Felina” tayang di September 2013, KataRupa masih belum menemukan film seri TV yang memiliki kualitas konsep dan ide cerita serta akting para aktor sekelas “Breaking Bad”, meski film-film ber-budget tambun datang silih berganti.

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: