Skip to content

Silat Kata Unjuk Rupa di “Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta”

1929114rosi2780x390

Debat kandidat pemimpin Jakarta yang diselenggarakan Kompas TV, Kamis (15/12/2016), tanpa kehadiran pasangan Agus-Sylvi. (Foto: Wisnu Nugroho/Kompas.com)

Panggung politik Pilgub DKI mulai beranjak menarik (semoga terus demikian) berkat inisiatif Kompas TV menggelar debat yang sudah sangat ditunggu-tunggu warga Jakarta.

Menarik, karena ibarat adu tinju profesional, para petarung mempertontonkan kepiawaian melancarkan jab-jab mematikan namun tetap sesuai aturan main. Tidak ada insiden saling umpat, tendang, banting, apalagi menggigit kuping lawan ala Mike Tyson.

Para kandidat dan suporter kedua belah pihak telah membuktikan diri sebagai sosok-sosok terpelajar tulen. Semoga ini pertanda demokrasi di ibu kota tercinta siap beranjak ke tingkat yang lebih tinggi dan bermartabat.

Debat yang bertajuk “Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta” ini terasa lebih istimewa dibanding debat Ahok & Anies di Net TV bertajuk “Jakarta Kece” (12/12/2016) karena diikuti juga cawagub masing-masing. Namun sayangnya, seperti di debat “Jakarta Kece”, pasangan Agus-Sylvi juga tidak hadir.

Kepiawaian Rosi memandu debat diselingi candaannya berhasil mencairkan suasana dan membuat para kandidat penuh percaya diri saling bersilat “kata” dan berunjuk “rupa” demi memikat hati warga Jakarta.

KataRupa mencatat beberapa hal menarik dari “kata” dan “rupa” yang disampaikan oleh Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

KATA

Meski gaya bahasanya berbeda, namun kedua pasangan kandidat ini sama-sama tak mau membuang kesempatan untuk menyelipkan kata-kata sindiran.

“Di tempat ini kita akan berhenti untuk terkotak-kotak. Kita sudah cukup terkotak-kotak selama ini,” tutur Anies.

Anies juga sempat menegaskan, “Karena kampanye kami bukan kosmetik, kampanye kami otentik.”

Sementara Djarot melancarkan kalimat yang mengundang riuh pendukungnya. “Kami tidak pernah dipecat,” ujarnya menutup cerita perjalanan karirnya dan Ahok.

Saat menyuguhkan aksi stand-up, Ahok mengungkap sikap politik dirinya dan Djarot yang terlalu “lurus” sehingga banyak dibenci mereka yang anti. Ia mengandaikan seperti “kayu lurus” di hutan yang banyak dicari pencari kayu untuk dipotong.

Di akhir debat, Ahok-Djarot dengan gaya kocak mengajak pemirsa untuk memakai “kacamata kuda” saat membuka surat suara.

Sementara Anies-Sandi unjuk kebolehan melantunkan lirik-lirik lagu bernuansa religi yang diiringi petikan gitar Sandi.

RUPA

Anies mengklaim bahwa mereka otentik, termasuk dalam hal berbaju. Baju yang mereka kenakan saat ini adalah baju sehari-hari mereka, tidak ada baju khusus kampanye. Istrinya dan istri Sandi pun ia sebut sehari-harinya menggunakan jilbab seperti saat ini.

Jika Ahok-Djarot menghadirkan penyanyi Tompi saat sesi penampilan pendukung kandidat, Anies mengklaim para pendukungnya yang tampil adalah rakyat biasa. Mereka tidak mengandalkan ketenaran untuk maju ke depan.

Jika Tompi membawakan lagu daerah Betawi “Jali-Jali”, tim Anies-Sandi menghadirkan musik rap asal Amerika, di mana Anies dan Sandi turut berjoget bersama.

Yang tak kalah menarik untuk disimak adalah video kedua pasangan kandidat berupa cuplikan pengalaman selama kampanye.

Diiringi lagu yang dibawakan vokalis Once, video Ahok-Djarot di antaranya memperlihatkan Djarot yang menghadapi salah satu penghadang kampanyenya, dua orang ibu-ibu sederhana yang rela menyumbang untuk Ahok-Djarot, aktivitas di Rumah Lembang, dan beberapa adegan Ahok saat kampanye ke beberapa pelosok kota.

Sementara yang berbeda dari video Anies-Sandi adalah adanya kegiatan spiritual Anies seperti Tausiyah Subuh di Masjid Sunda Kelapa. Musik pengiringnya pun tanpa lirik.

Sungguh tontonan kedewasaan berpolitik yang teramat sayang dilewatkan. Karenanya, silakan nikmati video rekamannya dari akun YouTube Kompas TV berikut ini:

(KataRupa)

Video: KOMPASTV

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: