Skip to content

Laga Politik Ala Kadar di Laga Bola Timnas Garuda

laga-politik-di-laga-bola

Pembaca,

Laga bola yang memantik api nasionalisme adalah mega magnet yang menarik hasrat para pemburu peluang untuk memanfaatkannya.

Tujuan pemburu peluang pun beragam; mulai dari meraup laba dagang, unjuk kebodohan (bagi perusuh), hingga mendongkrak popularitas. Yang terakhir ini lazim jadi tujuan para petarung politik.

Dalam kaitan perebutan kursi DKI 1 dan DKI 2, para cagub-cawagub pun tak mau menyia-nyiakan panggung akbar laga Timnas Garuda di Piala AFF 2016 lalu.

Kandidat nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, sempat melontarkan komentar-komentarnya saat nonton bareng dengan para relawannya di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, seperti dilansir kompas.com, Sabtu (17/12/2016),

Agus membesarkan hati para pendukung timnas yang saat itu tengah harap-harap cemas karena Boaz Solossa dan kawan-kawan sudah tertinggal 2-0 dari Thailand. “Walau ketinggalan, kita harus tetap semangat, biasanya jagoan kalah dulu,” ujar Agus.

Sebelumnya ia sempat melontarkan pernyataan menarik. “Semoga timnas kita menjadi nomor satu,” harap cagub bernomor urut 1 ini.

Seakan ingin selangkah di depan kandidat lain, kandidat nomor urut 3, Anies Baswedan, sampai terbang ke Thailand. “Saya juga ingin bersama-sama masyarakat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya di stadion ini,” jelasnya, seperti dilansir detik.com, Sabtu (17/12/2016).

Sementara cawagub nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat, mengaitkan perjuangan timnas Indonesia dengan isu yang kini tengah hangat. “Karena mereka telah menyatukan rakyat Indonesia melalui pertandingan ini. Semua melupakan perbedaan untuk bersama-sama mendukung timnas yang membawa nama Indonesia,” pesan Djarot, seperti dilansir porosjakarta.com, Sabtu (17/12/2016).

Laga politik sejatinya butuh panggung untuk unjuk kebolehan melafalkan visi dan misi para petarung politik yang tertuang dalam program andalan mereka.

Terbayang betapa tambunnya dana yang harus dikeluarkan para kandidat demi mendapatkan sebanyak dan sebesar mungkin panggung. 

Oleh karena itu, tim strategi kampanye mesti pintar dan jeli mencari panggung-panggung “gratisan”. Seperti piala AFF, panggung ini murah-meriah namun dengan sasaran massa yang berkali-kali lipat menyemut dibanding misalnya kampanye blusukan.

Sayangnya, menurut KataRupa, ketiga kandidat pemimpin DKI ini tidak terlalu terpicu dan terpacu memanfaatkan dahsyatnya medan magnet laga timnas di Piala AFF untuk meraup simpati massa lebih banyak. Padahal, perhelatan internasional ini jarang-jarang terjadi berbarengan dengan masa kampanye politik di mana tim Merah- Putih menjadi finalis.

Ketiga kandidat baru sebatas memberi komentar dan nonton bola bareng. Laga politik yang mereka peragakan di laga bola timnas masih ala kadarnya saja. Mungkin tim strategi komunikasi masing-masing kandidat punya pertimbangan lain?

Bagaimana menurut Pembaca?

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: