Skip to content

Stop Sebut Pejabat Pelaku Kriminal dengan Kata “Nakal”!

Entah siapa yang memulai, kata “nakal” seolah menjadi sebutan baku bagi pejabat pelanggar aturan.

Yang dilanggar pun bukan aturan dalam lingkup kecil seperti “dilarang berbicara” di ruang perpustakaan, tapi aturan hukum dengan sanksi kurungan badan hingga mati.

Akal dan hati kita (jika masih punya) mencium adanya ketidakberesan dalam penyematan kata “nakal” pada judul berita yang terkesan serampangan ini.

kumpulan-judul-nakal

Kompilasi berbagai judul berita (KataRupa)

Dalam kehidupan sehari-hari, kata “nakal” digunakan untuk menyebut anak yang melawan perintah guru dan orangtua, suka melanggar aturan sekolah, mengganggu teman, berkelahi, tawuran, merokok, nonton film porno, dan lain-lain. 

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “nakal” berarti suka berbuat kurang baik seperti; tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya. Pengertian lainnya; tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma masyarakat. Subyeknya disebutkan jelas, anak-anak dan remaja.

screen-shot-2016-12-19-at-10-01-44-am

Sumber: kbbi.co.id

Tanpa butuh kajian keilmuan yang tinggi, kita bisa menyimpulkan dengan mudah bahwa kata “nakal” adalah “gelar” milik anak-anak dan remaja badung, bandel. Perilaku mereka yang mengesalkan ini, meski terkadang tergolong kriminal, hanya dicap sebagai “kenakalan”, bukan “kejahatan” karena dalih usia.

Kata “nakal” menjadi ungkapan rasa kesal kita terhadap anak-anak dan remaja dengan catatan besar; “bisa dimaklumi” atau “bukan masalah besar” atau “bisa dimaafkan” karena mereka masih di bawah umur.

Jadi, pantaskah para pejabat, polisi, hakim, politisi, pengusaha, warga masyarakat yang notabene bukan anak-anak atau remaja, disebut “nakal” jika melanggar aturan hukum? Tentu saja, rumput yang bergoyang sekalipun akan lantang menjawab tidak.

Namun, ada saja yang berdalih bahwa sebutan “nakal” cuma kiasan, bukan arti sebenarnya. Benar sekali, kiasan yang mendegradasikan makna kriminalitas menjadi pelanggaran yang bisa dimaklumi, bukan masalah besar, bisa dimaafkan.

Pelemahan makna kata (begitu saja kita sebut) lewat kata pengganti kiasan yang dilakukan secara masif dan terus menerus, membuat orang melupakan makna kata yang sesungguhnya, bahkan hingga membalik “yang apa-apa” menjadi “tidak apa-apa”.

Relakah kita mengamini tindakan kriminal sebagai tindakan yang ‎bisa dimaklumi untuk lantas dianggap bukan masalah (besar)?

Jika tidak, ayo, mulai kini, stop sebut para pejabat pelaku kriminal dengan kata “nakal”. Panggil saja mereka “kriminal”!

(Sah/KataRupa)

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: