Skip to content

Kenapa Pengiklan Rokok Doyan Pajang Model Bule?

Pembaca,

Rasanya semua orang bisa menjawab pertanyaan di atas dengan mudah: karena model bule lebih ‘menjual’ ketimbang model Indonesia.

Mungkin juga ada yang mencoba menjawabnya lebih ‘dalam’: karena model bule adalah karya terindah Sang Pencipta dunia. Menurut mereka, Tuhan begitu royal menghadiahi model bule keindahan ragawi; tubuh tinggi menjulang, mata biru membius, hidung bangir sempurna, rambut pirang menggoda dan bahasa Inggris yang membuat orang kita merasa ‘intelek’ saat mengucapkannya.

kompilasi-iklan-rokok

Kompilasi screenshot iklan-iklan TV rokok dengan para model iklan bertampang bule (KataRupa)

Adapun kaum terpelajar bakal mencari jawaban yang ilmiah (baca: tidak terbawa perasaan) berdasarkan kajian ilmu marketing, di mana logika consumer insight menjadi argumentasi pamungkasnya.

Jika kita ikuti alur logika consumer insight, jawabannya akan menjadi begini: pengiklan rokok merek-merek dalam negeri ini ‘hanya’ memotret apa adanya aspirasi konsumen Indonesia yang tergila-gila sosok bule. Kemudian, memindahkan potret tersebut ke dalam komunikasi iklan, di mana menurut rumus consumer insight, sosok bule wajib hukumnya menjadi pelakon utama.

Jawaban yang sungguh masuk akal, bukan? 

Tapi, tunggu dulu, kaum terpelajar juga sering bilang bahwa untuk mencari jawaban yang paling sahih, perlu menggali dari berbagai sisi. Dalam hal ini, tak cukup menelisik insight dari produk dan konsumen saja, tapi juga insight pengiklan.

Jika demikian, mengapa pengiklan rokok doyan pajang model bule, bisa saja kita jawab begini: karena pengiklan tidak merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengangkat para anak bangsa dari lumpur pekat bernama minder kronis.

Pengiklan justru bernafsu mencekoki target konsumennya dengan citra bule agar mereka terus mengalami halusinasi serasa bule dengan merokok produk pengiklan. Ujung-ujungnya, demi keran laba tetap mengucur deras.

Baca juga: Memelihara Minder Kronis di Balik Pemakaian Kata Asing

Tentu saja, sang pengiklan bakal membantah keras jika dianggap memanfaatkan minder kronis konsumen Indonesia. Mereka akan melancarkan dalil-dalil logis guna mematahkan argumentasi di atas. Maka, yang bakal terjadi, perdebatan panjang tanpa ujung akhir.

Pembaca, di dunia akademis, berdebat itu seru dan asyik. Namun, di dunia praktis (kerja), hanya akan buang-buang waktu jika tanpa disertai ajuan solusi aksi. 

Untuk itu, bagi para mahasiswa yang tertarik dengan topik ini, cobalah membuat konsep iklan rokok menggunakan model Indonesia. Temukanlah ide-ide mujarab dengan memanfaatkan kelebihan model Indonesia guna menangkal ‘guna-guna’ citra bule.

Selamat berkreasi!

Redaksi

KataRupa © Copyright 2016. All Rights Reserved
%d bloggers like this: