Skip to content

Karena Pot Bunga Bukan Asbak

Pembaca,

Hingga akhir 2016 ini Indonesia telah “berhasil” menggondol dua “gelar” peringkat satu dunia sekaligus untuk kategori laki-laki dan perempuan. Namun, sayangnya bukan dalam urusan yang patut dibanggakan.

Berdasarkan data dari The Tabacco Atlas 2015, sebanyak 66% laki-laki di Indonesia berusia di atas 15 tahun merokok. Terbesar di dunia, diikuti Rusia di peringkat kedua (60%) dan China di peringkat ketiga (53%).

“Dengan kata lain, dua dari tiga laki-laki usia di atas 15 tahun di Indonesia adalah perokok,” tutur Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Lily Sulistyowati di Jakarta, seperti dilansir health.kompas.com, Rabu (25/5/2016).

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Nila Moeloek, menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya perokok aktif dari kalangan perempuan.

“Perokok di kalangan perempuan mengalami peningkatan sebanyak 2.76%. Perempuan perokok tertinggi di dunia. Ada apa dengan perempuan Indonesia?” ujar Menkes, seperti dilansir lifestyle.okezone.com, Senin (31/5/2016).

Menurut Menkes, tak hanya perempuan dan laki-laki dewasa saja, jumlah anak-anak di usia 15 tahun bahkan di bawah usia 15 tahun juga semakin meningkat sampai 26%.

Bahaya Puntung Rokok

Seperti halnya asap rokok, puntung rokok juga ternyata sangat berbahaya bagi lingkungan. Seperti dilansir Reuters dari jurnal American Chemical Society Industrial & Engineering Chemistry Research, Jumat (14/5/2010), para ilmuwan di China berhasil mengidentifikasikan sembilan bahan kimia yang terdapat dalam puntung rokok saat dibenamkan ke dalam air.

Ekstrak senyawa ini dapat melindungi pipa baja dari karat, namun senyawa ini jugalah yang membuat ikan-ikan kehilangan nyawa. Artinya, rokok yang baranya sudah mati pun tetaplah mematikan.

Bayangkan saja berapa juta puntung rokok setiap menit yang dibuang oleh para perokok dengan jumlah terbesar di dunia ini yang mengancam keselamatan lingkungan hidup.

Pembaca, mungkin sudah ribuan kali kita terpapar oleh kampanye bahaya asap rokok, baik yang ditujukan bagi si perokok maupun orang-orang di sekitarnya yang dikenal sebagai perokok pasif. Namun, hingga kini KataRupa belum menemukan kampanye tentang puntung rokok dan kaitannya dengan lingkungan hidup.

Kampanye “Melek Asbak”

Salah satu kebiasaan buruk perokok adalah membuang puntung rokok di pot bunga. Entah karena otak mereka yang ‘rusak’ oleh asap rokok, atau memang kebiasaan dari sono-nya, para perokok ini gagal paham bahwa pot bunga bukanlah asbak.

Para oknum yang ‘buta asbak’ ini datang dari berbagai latar belakang status sosial dan ekonomi. Jadi keliru besar jika disebut pelakunya hanya kalangan berpendidikan rendah dan tak terdidik. Mereka yang terpelajar bahkan berpredikat pejabat, pemuka masyarakat, public figure sama saja kelakuannya.

Tengok saja misalnya di hotel-hotel dan tempat-tempat pertemuan kelas atas, banyak dijumpai puntung rokok di pot-pot bunga yang terpajang di teras lobi ataupun kamar hotel, seperti yang terekam oleh kamera KataRupa di bawah ini.

puntung-rokok-di-pot-bunga

Tamu hotel yang membuang puntung rokok di pot bunga di teras kamar sebuah hotel berbintang di Bandung, Selasa (27/12/2016). (Foto: KataRupa)

Tak cukup berusaha “membunuh” diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya, para oknum perokok ‘buta asbak’ ini juga berusaha membunuh tanaman. Katakanlah mereka tidak peduli fungsi tanaman hias, namun bukan berarti berhak mencabut nyawa tanaman-tanaman tak berdosa tersebut.

Sadarkah mereka bahwa hotel dan tempat-tempat lainnya yang sering disinggahi para wisatawan asing adalah juga wajah Indonesia? Kemungkinan besar sadar mengingat latar belakang ekonomi dan pendidikan yang tinggi. Namun, itu tadi, mereka tak peduli.

Jika sedang berada di luar negeri, para perokok ‘buta asbak’ ini bisa mendadak patuh aturan, namun di negeri sendiri mereka ‘membutakan’ diri seenak hati. Tampaknya memang dibutuhkan aturan yang sangat tegas khususnya di level pengawasan dan penindakan. Sayangnya, dua hal ini masih menjadi barang mewah di negara kita.

Pembaca, sambil menunggu aturan ditegakkan (semoga), kampanye komunikasi untuk membuat para oknum perokok ‘melek asbak’ perlu dilakukan. Menurut KataRupa, tujuannya bukan untuk menyadarkan mereka akan hak hidup tanaman—karena mereka tak peduli—tapi membuat mereka malu disebut tak bisa membedakan pot dengan asbak.

Ada yang punya ide?

Redaksi

KATARUPA © COPYRIGHT 2016. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: