Skip to content

Bahasa Tubuhmu, Masa Depanmu!

screen-shot-2016-12-31-at-5-36-08-pm

Screenshot YouTube “Your body language shape who you are I Amy Cuddy”

Masih hangat dalam ingatan kita ketika majelis hakim sidang “kopi sianida” menjatuhkan vonis 20 tahun hukuman penjara kepada terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Salah satu pertimbangan majelis hakim saat itu adalah air mata Jessica yang tidak jatuh hingga ke hidung, sehingga dinilai hakim sebagai sandiwara, seperti dilansir hukumonline.com, Kamis (27/10/2016).

Hakim Binsar sampai memperhatikan secara detil airmata terdakwa yang menurutnya tidak keluar saat membacakan pledoi. “Tidak meneteskan airmata dan tidak ada yang menetes hingga ke mulut,” ujar Binsar, seperti dilansir viva.co.id, Jumat (28/10/2016).

Pakar hukum pidana, Romli Atmasasmita, menilai putusan majelis hakim murni didorong keyakinan mereka. Ini bisa diartikan bahwa hakim meyakini Jessica telah berbohong dengan mengamati bahasa tubuh Jessica.

Meski pro dan kontra mengiringi vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini, namun satu hal yang pasti, bahasa tubuh seseorang menjadi acuan orang lain untuk menilai orang tersebut. Fakta ini, tak bisa dipungkiri, dominan terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Maka, menjadi tragis jika seseorang dihakimi “buruk” padahal bahasa tubuhnya yang terbaca saat itu sama sekali tidak berkaitan dengan kepribadiannya yang sesungguhnya. Misalnya, calon pelamar kerja ketika di-interview menggaruk-garuk kepalanya karena memang rambutnya berkutu. Namun oleh sang bos HRD dianggap kurang sopan atau tulalit, tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Berbicara soal karir dan masa depan, Amy Joy Casselberry Cuddy–seorang ahli psikologi sosial, penulis dan pengajar asal Amerika–membagi temuan menariknya di TED Talks pada 2012 lalu.

Amy yang ahli dalam bidang psychology of power, influence, nonverbal communication, and prejudice ini, mengungkap hasil eksperimen yang ia lakukan bersama Dana Carney dan Andy Yap. Bahwa nonverbal expressions of power (expansive, open, space-occupying postures) berpengaruh kuat terhadap perasaan seseorang, perilaku dan peningkatan level hormon tertentu.

Amy mengklaim, seseorang yang mengadopsi sikap tubuh yang mengekspresikan dominasi dan kekuatan (“power posing”) selama 2 menit, akan meningkatkan hormon testosterone, mengurangi hormon cortisol, menambah keberanian menghadapi resiko, dan berpenampilan lebih baik di job interviews.

Yang ingin dikatakan Amy adalah bahwa benar bahasa tubuh kita berpengaruh pada bagaimana orang menilai kita, namun hal ini bisa juga mengubah cara pandang kita terhadap diri kita sendiri.

Ia menyarankan agar mereka yang minderan, terus saja berpura-pura tampil dengan bahasa tubuh yang penuh ekspresi kekuatan diri, karena pada waktunya akan sampai pada titik di mana kepura-puraan itu mampu mengubah diri mereka menjadi sosok yang diinginkan.

screen-shot-2016-12-31-at-5-45-21-pm

Screenshot YouTube “Your body language shapes who you are I Amy Cuddy”

KataRupa jadi tergelitik, seandainya Jessica mampu menangis hingga air matanya keluar dan mengalir ke hidung dan mulutnya, mungkinkah bakal menggoyahkan keyakinan majelis hakim?

Presentasi Amy yang cukup menggoncang dunia komunikasi nonverbal ini, mengingatkan kita pada buku “The Secret” yang ditulis Rhonda Byrne. Buku ini menjadi begitu fenomenal sekaligus kontroversial karena mengklaim kekuatan pikiran yang positif mampu mengubah angan-angan menjadi kenyataan.

Tak sedikit yang menentang hasil eksperimen Amy, termasuk rekan satu tim risetnya, Dana Carney, yang belakangan meragukan efektivitas the power of poses tersebut. Namun, satu hal tetap tak terbantahkan, bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal faktanya lebih dipercaya ketimbang bahasa verbal.

Jadi, tak berlebihan kiranya jika kita simpulkan; bahasa tubuhmu, masa depanmu!

Silakan simak video presentasi Amy Cuddy berikut dari akun YouTube TED:

(KataRupa)

KATARUPA © COPYRIGHT 2016. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: