Skip to content

Ini Rahasia Top Designers Mengatasi “Creative Block” (1)

creative-block-1

Ilustrasi: KataRupa

Siapa pun yang berkecimpung di dunia kreatif pasti pernah mengalaminya. Ide “mentok”, atau dalam bahasa Inggris biasa disebut “creative block”, sering tak terhindarkan dalam sebuah proses kreatif. Tapi bagaimana mengatasinya, supaya bagian ini tidak menghentikan seluruh proses kreatif kita? Adrienne Branson membocorkan rahasia para desainer top dalam mengatasi “creative block” di designschool.canva.com.

Berikut tulisannya yang telah diterjemahkan KataRupa, khusus buat para desainer dan peminat kreatif desain:

Terkadang, menjadi kreatif terasa begitu mustahil.

Masalah sebuah proyek adalah bagaimana memulainya. Terkadang juga, sebuah proyek bergulir dengan lancar, tapi kemudian macet di tengah-tengah karena sebuah detil kecil.

Kedua situasi ini dapat disebut sebagai “creative block”. Hampir semua pekerja kreatif pernah mengalaminya. Tapi kita mempunyai ambisi. Kita mempunya tenggat waktu, dan proyek itu harus selesai. Apa yang bisa kita lakukan?

Beruntungnya, kita tidak sendirian. Banyak seniman dan desainer ternama yang juga mengalaminya. Dan mereka punya beberapa kiat penyelamat yang ingin mereka bagikan. Berikut 15 kiat penyelamat itu:

1. Mulailah dengan Sesuatu yang Buruk

“Terkadang, memulai dengan solusi yang paling buruk dapat membantumu mengatasi kebekuan. Paling tidak, kita sudah memulainya.” – Sean McCabe, seniman tulisan tangan dan pengusaha.

Terkadang, bagian yang paling sulit dari suatu proyek adalah memulainya. Mungkin kita sudah terlalu banyak memberi tekanan pada diri sendiri untuk membuat sesuatu yang menakjubkan sejak awal. Dengan kondisi mental seperti itu, tak heran memulainya saja sudah susah – kita akan takut gagal.

Tinggalkan kebiasaan itu – jangan takut gagal membuat sesuatu yang mungkin akan berguna. Cukup buatlah sesuatu. Titik.

 2. Tangkap Gairah di Awal Proyek

“Jika kamu bisa menangkap gairah yang muncul di awal kamu memulai proyek itu dan menurunkannya ke dalam mood board, maka kamu selalu punya sesuatu sebagai referensi. Saya pribadi suka menambahkan sedikit sentuhan desain – sedikit elemen desain bergerak yang ceria yang menambah sedikit nilai dan kesenangan. Hal-hal semacam itulah yang mendorong saya terus maju” – Jay Chan, desainer produk digital di Ustwo.

Saat saya sangat tertarik dengan sebuah ide, saya memikirkannya setiap saat – hampir selalu. Ketertarikan itu benar-benar dapat membawa saya melewati tahap-tahap awal sebuah proyek. Visinya nampak jelas. Kemudian, momentum mulai sulit datang. Saya akan terjebak di dalam sebuah detil kecil, dan pada saat itu visi yang tadinya nampak jelas mulai mengabur.

Kamu dapat mengatasi hal semacam ini dengan membuat sebuah mood board dan menangkap semua visi yang muncul di awal proyek itu. Sehingga jika nanti kamu merasa “mentok”, kamu punya koleksi inspirasi dan ide untuk kembali ke referensi-referensi tersebut.

3. Think Inside the Box

“Kamu harus memasang parameter yang sempit dalam bekerja, dan di dalamnya, beri cukup ruang untuk dirimu bekerja.” – Trey Speegle, seniman mix-media.

Kanvas kosong (atau layar komputer – atau medium apa pun tempatmu bekerja) bisa sangat mengintimidasi. Ada terlalu banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan medium tersebut. Dengan memasang beberapa “larangan”, kamu akan membantu dirimu sendiri untuk memutuskan apa yang tidak bisa dan apa yang bisa kamu lakukan dengan medium itu.

4. Istirahat – untuk Mengisi Ulang Kreativitasmu

“Ada saat-saat di mana aku duduk di mejaku dan menatap dengan kosong halaman buku sketsa yang masih bersih, dan di saat yang bersamaan ketakutan yang luar biasa serta perasaan bahwa yang kulakukan ini tidak cukup baik menguasaiku. Menurutku itu wajar. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah bersikap proaktif dan tidak membiarkan situasi menguasaimu. Keluarlah, bergerak, bolak-baliklah halaman sebuah majalah, kunjungi sebuah galeri, berjumpalah dengan kawan, bacalah buku, berjalanlah di taman. Lakukan sesuatu. Aku menemukan bahwa, saat kamu berjarak dengan halaman kosong itu, kamu akan membayangkan hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk mengisinya.” – Johanna Basford, illustrator dan seniman buku mewarnai.

Jika kamu berjuang dan merasa tak ada yang berhasil, mungkin kamu butuh istirahat. Berhentilah memaksanya dan menjauhlah dari proyek itu. Lakukan sesuatu yang menarik, seperti yang disarankan oleh Basford. Fokuskan energimu ke hal yang lain. Solusi mungkin datang saat kamu tidak mengharapkan kedatangannya. Dalam kasus ini, bawalah buku sketsa selalu. Kamu tidak tahu kapan inspirasi akan menghampirimu.

5. Katakan YA

“Aku cenderung berkata YA lebih sering dari yang sebenarnya bisa kulakukan, dan ketakutan akan kegagalan membuat pekerjaanku terus bergulir.” – Nicolas Felton, desainer infografis.

Selalu berkata “ya” akan memberimu suplai tantangan kreatif yang tetap untuk membuatmu terus bekerja. Akan selalu ada sesuatu yang baru untuk dipecahkan, dan jika kamu setipe dengan Felton, ketakutan akan kegagalan akan mendorongmu untuk sukses.

Proyek-proyek ini memberimu kesempatan untuk bereksperimen dan lebih mengenal dirimu sendiri – apakah kamu paling kreatif jika kamu menggarap suatu proyek dari tahap ide sampai ke eksekusi, atau jika kamu melompat dari satu proyek yang sedang berlangsung ke proyek lainnya? Kamu hanya bisa tahu jika kamu memiliki banyak proyek.

 6. Taatilah Tenggat Waktumu

“Pada akhirnya, tenggat waktu adalah obat terbaik untuk ‘mentok’. Kadang aku menumbuhkan rasa panik ini dengan membuat komitmen pada orang lain, misalnya kapan aku akan mempresentasikan hasil kerjaku. Dan ini berhasil.” – Ben Barry, desainer grafis Facebook.

Mirip dengan ketakutan akan kegagalan milik Felton tadi, punya tenggat waktu yang ketat adalah sesuatu yang sangat memotivasi, bagi beberapa tipe orang. Kamu mungkin punya keinginan untuk tidak mengecewakan klienmu, atau ingin konsisten pada sekelompok orang yang mengharapkan update darimu. Apa pun keinginanmu, tenggat waktu akan membuatmu terus bekerja.

Jika kerja kreatifmu adalah sebuah hobi dan bukan pekerjaan, mungkin akan lebih susah untuk menentukan tenggat waktu. Dalam kasus ini, buatlah komitmen kepada siapa pun yang bisa membuatmu tetap bertanggungjawab atas pekerjaanmu – entah itu adalah seorang kawan yang pengertian, seorang rekan kerja kreatif, pasanganmu, atau sekelompok orang yang mengharapkan hasil kerjamu.

7. Mencurilah Seperti Seorang Seniman

“Cobalah untuk membuat ulang karya orang lain yang kamu kagumi. Cobalah untuk mengungkap rahasia proses mereka, dan bagaimana karya mereka dibuat. Penulis melakukan ini – mereka menceritakan ulang cerita-cerita yang mereka suka, musisi menulis kembali musik yang mereka suka dan yang ingin mereka dengar. Begitulah cara kita belajar, dan begitulah cara kita berlatih.” – Alexander Charchar, desainer grafis dan mantan editor Smashing Magazine.

Mencuri–untuk kepentingan belajar–adalah sebuah latihan yang baik. Pelukis yang dilatih secara klasik akan melukis ulang karya-karya terkenal untuk mempelajari teknik melukisnya. Jika kamu mengunjungi banyak museum seni Eropa di saat yang tepat, kamu akan bertemu dengan mahasiswa seni dengan peralatan gambarnya di depan pameran-pameran, meneruskan tradisi yang selama ini berlangsung di sana.

Pilihlah sebuah karya yang menginspirasimu–desain poster, website yang didesain dengan bagus, atau sebuah karya tipografi–dan cobalah merepronya. Seringnya kamu akan menemukan bahwa suatu hal itu jauh lebih rumit daripada penampakannya, dan menemukan bahwa ini adalah cara yang baik untuk meninggalkan kompleksitas yang mungkin menahanmu di karya orisinilmu.

Masih ada beberapa kiat lagi untuk mengatasi creative block yang akan KataRupa sajikan di artikel berikutnya.

Baca juga: Ini Rahasia Top Designers Mengatasi “Creative Block” (2)

(May/KataRupa)

Disadur dari: designschool.canva.com/blog/creative-block/

KATARUPA © COPYRIGHT 2017. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: