Skip to content

Ketika Jalan Tol Tak Mulus Justru ‘Memaksa’ Pengendara Ngebut

img_2530

Sisi kiri jalan tol yang tidak mulus, penuh tambalan dan lubang, di tol Cipularang, Purwakarta, Kamis (2/2/2017). Foto: KataRupa

Pembaca,

Jalan tol seringkali membuat pengendara terpicu untuk memacu kencang mobilnya. Maklum saja, karena umumnya jalan tol dibuat mulus, berjarak panjang, dan bebas hambatan.

Bagi mereka yang sehari-harinya ‘tertindas’ oleh kondisi jalanan macet parah seperti Jakarta, ngebut di jalan tol (yang tidak macet) seolah jadi ajang pelampiasan dendam kusumat. Pikir mereka, buat apa punya mobil—apalagi yang bergaya sporty—jika hanya bisa melaju tak lebih kencang dari sebuah gerobak dorong.

Ada juga yang terpicu ngebut karena memang harus berpacu dengan waktu. Namun, ada juga yang malah tak menyadari jika jarum spidometer mobilnya melewati angka 100 hingga mendekati 200 km/jam saking mulusnya si jalan tol!

Banyak hal yang memicu pengendara mobil ngebut di jalan tol, terutama tol luar kota. Namun, tahukah Pembaca jika banyak pengendara mobil yang ‘dipaksa’ ngebut justru karena kondisi jalan tol yang tidak mulus?

Bagi yang kerap melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya via jalan tol Cipularang, mungkin sudah akrab dengan sisi kiri jalan yang penuh tambalan tak rata, bahkan tak sedikit yang dibiarkan berlubang. Kondisi ini bisa kita jumpai di hampir sepanjang jalan tol.

Bagi pengendara mobil yang terbiasa atau memilih melaju kencang, barangkali tidak menjadi masalah, karena mereka berada di sisi kanan yang relatif mulus. Namun, bagi yang memilih untuk melaju dengan batas kecepatan aman hingga ‘santai’, sisi kiri jalan yang tak mulus menjadi dilematis.

Pilihannya hanya dua; melaju di sisi jalan rusak yang bisa merusak kaki-kaki mobil hingga membuat badan terguncang-guncang tak nyaman sepanjang jalan, atau melaju di sisi kanan yang mulus namun terpaksa harus ngebut.

Memilih sisi kanan yang mulus dengan batas kecepatan aman yang sesuai aturan sekalipun, pada kenyataannya sulit dilakukan. Pasalnya, mobil-mobil berarus kanan di belakang kita bakal ‘mengintimidasi’; mulai dari mengedipkan lampu panjang, membunyikan klakson, hingga secara agresif memepetkan ujung depan mobilnya. Terang saja, karena kecepatan ‘aman’ bagi mereka adalah di atas 80 km/jam, atau rata-rata 100-120 km/jam.

Walhasil, daripada kaki-kaki mobil rusak, kepala pening, dan badan pegal-pegal karena kondisi jalan yang tak mulus, pengendara berarus kiri terpaksa berubah menjadi ‘pembalap’ di sisi kanan jalan.

Bis dan truk bermuatan super berat kerap dituduh menjadi dalang rusaknya jalan tol sisi kiri. Namun, sesungguhnya yang bertanggung jawab adalah pengelola tol dan dinas terkait. Semestinya jalan tol dibuat tahan beban berat jika memang muatan truk dan bis tidak dibatasi. Tetapi, jika dibatasi, pengawasannya harus ketat disertai sanksi berat buat para pelanggar.

Sayangnya, menurut pantauan KataRupa, hingga tulisan ini dturunkan belum terlihat ada upaya pengelola tol membuat jalan tol sisi kiri kembali mulus seperti seharusnya. Yang kerap dilakukan hanya sebatas tambal sulam seadanya.

Jika memang tidak sanggup lagi melakukan perbaikan yang sepatutnya, lebih baik jika pengelola tol memasang rambu peringatan keras dan tegas agar pengendara tidak memacu kendaraannya lebih dari 80 km/jam di sepanjang sisi kanan jalan.

Rambu peringatan ini menjadi sangat penting agar para pengendara mobil yang sejatinya berniat melaju dengan batas kecepatan aman, tidak ‘dipaksa’ ngebut. Karena ngebut sudah pasti meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan maut.

Barangkali ada di antara Mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang tertarik menjadikannya topik skripsi atau tugas akhir?

Redaksi

KATARUPA © COPYRIGHT 2017. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: