Skip to content

Agar Tiada Dusta, “Jalan Tol” Diganti Saja “Jalan Berbayar”

Ribuan kendaraan terjebak macet saat melintasi Tol Dalam Kota arah Tol Cikampek di Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (24/12).

Tol Dalam Kota Jakarta sama macetnya dengan jalan reguler. Foto: Antara/M Agung Rajasa, Jakarta (24/12/2015). Sumber: print.kompas.com

Pembaca,

Wikipedia versi Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa jalan tol—atau di Indonesia disebut juga jalan bebas hambatan—bertujuan untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Untuk itu, pengguna jalan tol harus membayar sesuai tarif yang berlaku berdasarkan golongan kendaraan.

Kata “toll” berarti “biaya”, maka jalan tol berarti jalan bebas hambatan yang mengenakan biaya bagi penggunanya. Hal ini berbeda dengan freeway, di mana “free” berarti “gratis”. Jalan tol dan freeway sama-sama bebas hambatan, hanya yang satu bayar, satu lagi gratis.

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh mencari definisi jalan tol, karena faktanya para pengguna jalan memaknai jalan tol sebagai jalan bebas dari segala macam hambatan, terutama kemacetan. Demi tak terjebak kemacetan, pengguna tol rela membayar sejumlah uang, meski tarifnya terus merangkak naik dari tahun ke tahun.

Tak sedikit warga Jakarta yang melabeli kotanya sebagai satu-satunya kota di dunia yang jalan tolnya macet. Pernyataan yang sesungguhnya terlalu berlebihan, karena faktanya di beberapa negara juga ada. Namun yang pasti, jalan tol dalam kota Jakarta hampir setiap hari diwarnai kemacetan.

Kemacetan di ruas tol dalam kota Jakarta sudah seperti penyakit menahun yang sulit disembuhkan. Bahkan, banyak yang memprediksi jalan tol dalam kota Jakarta bakal semakin parah. Jalan tol tak ubahnya jalan biasa yang tak pernah sepi dari kemacetan, kecuali saat libur mudik lebaran.

Baca juga: Ketika Jalan Tol Tak Mulus Justru ‘Memaksa’ Pengendara Ngebut

Jika demikian adanya, masih pantaskah jalan tol dalam kota Jakarta ‘menjual’ esensi jalan tol yaitu sebagai jalan bebas hambatan alias bebas macet?

Bagi pengguna yang sudah sampai level pasrah dan pengelola jalan tol yang akhirnya (terpaksa) tutup mata, kondisi tol gagal ini dianggap sebagai resiko hidup dan kerja di Jakarta. Bahkan, ada yang yang memaknainya sebagai ‘takdir’, saking pasrahnya.

Namun bagi yang tak rela, sumpah serapah seolah menjadi ekspresi rutin yang jadi santapan sehari-hari si jalan tol ‘gadungan’ ini. Ia dituduh sebagai ’kebohongan’ masif dan menahun, karenanya sungguh tak layak menyandang predikat “jalan tol”.

Nah, daripada terus-terusan menyulut murka karena ‘dusta’ yang ‘dipelihara’ selama bertahun-tahun, tidakkah sebaiknya predikat “jalan tol” diganti saja menjadi “jalan berbayar”, di mana di setiap gerbang masuk tertampang plang nama, misalnya: “Gerbang Jalan Berbayar Semanggi”?

Akan lebih jujur lagi jika ada plang di sepanjang jalan yang intinya menjelaskan bahwa jalan berbayar ini bukan jalan tol yang bebas hambatan, karena  kemacetan bisa sewaktu-waktu atau sering terjadi.

Cara ini paling tidak membuat para pengguna tak lagi merasa ‘dibohongi’ pakai istilah ‘jalan tol’. Mereka membayar bukan lagi dengan harapan yang muluk—bebas macet, tapi sebagai upaya untung-untungan—semoga tidak macet.

Bagaimana menurut Pembaca, khususnya para Mahasiswa Komunikasi, mungkin punya ide penamaan lain?

Redaksi

Featured Image: Antara/M Agung Rajasa/print.kompas.com

KATARUPA © COPYRIGHT 2017. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: