Skip to content

Shigetaka Kurita, Pencipta Emoji yang Awalnya Terinspirasi Ramalan Cuaca

Screen-Shot-2017-05-24-at-5.35.27-PM

Sumber: screenshot youtube Jing Garcia

Siapa sih yang tidak pernah memakai emotikon dalam berbalas teks? Emotikon sudah jadi bagian dari komunikasi kita sehari-hari, yang membantu kita memvisualisasikan maksud dan ekspresi, bahkan mungkin menggantikan intonasi dari teks yang kita kirim. Tapi tahukah kamu sejarah emotikon – atau yang pada awalnya disebut “emoji” ini? Berikut ceritanya, yang disampaikan langsung oleh “bapak emoji”; Shigetaka Kurita, kepada Justin McCurry, theguardian.com.

Saya adalah bagian dari tim yang menghabiskan waktu sekitar dua tahun merancang emoji pertama untuk meluncurkan sistem internet mobile NTT DoCoMo pada tahun 1999. Penggunaannya dibatasi hingga 250 karakter dalam sebuah email, jadi kami pikir emoji akan menjadi cara yang cepat dan mudah bagi mereka untuk berkomunikasi. Ditambah dengan hanya menggunakan kata-kata dalam pesan singkat semacam itu bisa menyebabkan kesalahpahaman. Sulit untuk mengekspresikan diri dengan benar dengan begitu sedikit karakter.

Pada pertengahan 1990-an, sebelum mobile pager di Jepang disebut Pocket Bells. Mereka murah dan sangat populer di kalangan anak muda, sebagian karena mereka memiliki simbol hati. Kemudian versi baru dari Pocket Bell keluar yang lebih dimaksudkan untuk penggunaan bisnis, dan simbol hati dihapuskan. Hal ini rupanya menimbulkan protes, hingga pengguna muda meninggalkan DoCoMo dan beralih ke perusahaan Pocket Bell lain yang masih mempertahankan simbol tersebut. Saat itulah saya tahu bahwa simbol harus bagian dari layanan teks. Itulah inspirasi utama saya.

Sedangkan untuk emoji itu sendiri, saya mendapat inspirasi dari tanda yang digunakan dalam ramalan cuaca dan dari karakter kanji. Awalnya ada sekitar 200 emoji, untuk hal-hal seperti cuaca, makanan dan minuman, dan suasana hati dan perasaan. Saya merancang simbol “hati” untuk cinta. Sekarang ada lebih dari 1.000 emoji Unicode.

Emoji asli berwarna hitam dan putih dan dibatasi 12 x 12 piksel, jadi warnanya sangat sederhana dan tidak banyak variasi. Kita tidak bisa hanya merancang apa yang kita sukai karena kita bekerja di bawah kendala teknis tersebut. Emoji warna pertama muncul pada tahun 1999, ketika operator seluler lain di Jepang mulai merancang versi mereka sendiri, seperti wajah-wajah kuning yang Anda lihat hari ini.

Awalnya kami hanya mendesain untuk pasar Jepang. Saya tidak berasumsi bahwa emoji akan menyebar dan menjadi sangat populer secara internasional. Saya terkejut melihat betapa meluasnya emoji ini. Dan rupanya, mereka bersifat universal, jadi mereka adalah alat komunikasi yang sangat berguna dan melampaui batasan bahasa.

Kebanyakan orang tidak tahu wajah saya – tentu saja. Tapi ketika saya diperkenalkan ke luar negeri sebagai orang yang menemukan emoji, orang-orang sepertinya sangat terkejut. Saya senang dengan hal itu, tapi pada saat bersamaan rasanya aneh karena hari-hari emoji saya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu dan ini bukanlah sesuatu yang saya pikirkan sekarang. Saya tidak pernah memperkenalkan diri sebagai orang di belakang emoji.

Saya pikir langkah selanjutnya untuk emoji akan lebih melokalisasinya. Sudah ada banyak simbol yang spesifik untuk budaya dan masyarakat Jepang, dan saya berharap hal yang sama terjadi di negara lain. Emoji sudah ada selama lebih dari 15 tahun di Jepang dan telah menjadi bagian dari kehidupan yang orang anggap sebagai bagian alami dari pesan teks.

Pengenalan iPhone, yang penggunanya memiliki akses ke stok emoji yang sama, tentu saja adalah sebuah bantuan besar. Jika emoji berkembang secara berbeda tergantung perangkatnya, maka saya rasa mereka emoji tidak akan menjadi sebesar ini.

Secara teknis saya tidak berpikir kita akan melihat perubahan dramatis pada emoji. Simbol yang bergerak atau menghasilkan suara telah ada selama beberapa waktu, kemudian Anda memiliki stiker untuk aplikasi texting Line, walaupun saya tidak akan menggambarkan salah satu dari mereka sebagai emoji.

Saya tidak menerima bahwa penggunaan emoji adalah tanda bahwa orang kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan kata-kata, atau bahwa mereka memiliki kosa kata terbatas. Beberapa orang mengatakan hal yang sama tentang anime dan manga, tapi ketakutan itu tidak pernah disadari. Dan itu bahkan bukan hal yang generasional. Orang-orang dari segala umur mengerti bahwa satu emoji bisa mengatakan lebih banyak tentang emosi mereka daripada teks. Emoji telah tumbuh karena mereka memenuhi kebutuhan di antara pengguna ponsel. Saya menerima bahwa sulit untuk menggunakan emoji untuk mengungkapkan perasaan yang rumit dan bernuansa, tapi emoji bagus untuk menyampaikan pesan umum.

Saya bekerja untuk perusahaan yang berbeda sekarang [perusahaan jaringan konten Dwango] dan tidak lagi merancang emoji, tapi saya masih memiliki titik lemah untuk orang yang mengkomunikasikan emosi positif. Saya akan mengatakan bahwa emoji “hati” adalah emoji favorit sepanjang masa saya.

(May/KataRupa)

Disadur dari: theguardian.com

Video: Jing Garcia

Featured image: screenshot youtube Jing Garcia

KATARUPA © COPYRIGHT 2017. ALL RIGHTS RESERVED
%d bloggers like this: