Skip to content

Benarkah ‘Silent Majority’ Tak Punya Nyali, Tak Peduli Sekitar dan Cuma Sekumpulan Orang ‘Mati’?

silent-majority

Ilustrasi “Silent Majority” (KataRupa)

Pembaca,

Kaum silent majority akhir-akhir ini disemangati banyak pihak agar berani bersuara dan bertindak ‘melawan’ dominasi arogansi kaum yang dianggap vocal minority.

Silent majority bukanlah istilah yang baru lahir kemarin sore, namun karena suhu politik Indonesia yang memicu percikan konflik horisontal beberapa bulan terakhir, menjadikan kata ini mendadak akrab di telinga kita.

Menurut sejarahnya, istilah silent majority dipopulerkan pertama kali oleh Presiden Amerika Richard Nixon dalam pidatonya pada 3 November 1969. Nixon mendeskripsikan silent majority, di antaranya, sebagai mayoritas rakyat Amerika yang tidak turut demo menentang keterlibatan Amerika di perang Vietnam. Dengan kata lain, mayoritas rakyat Amerika ‘diam-diam’ merestui para serdadunya membombardir Vietnam. Namun, mereka tidak mengekspresikan opininya ke ranah publik.

Fakta yang menarik, jauh sebelum Nixon, pada abad ke-19, silent majority adalah istilah halus untuk orang-orang yang telah meninggal dunia. Karena berdasarkan statistik, jumlah manusia yang hidup jauh lebih kecil dari jumlah manusia yang telah meninggal sepanjang sejarah hidup manusia. Tercatat di 2011, diperkirakan ada 14 orang meninggal untuk 1 orang yang hidup (sumber: wikipedia). Dengan demikian yang meninggal adalah silent majority dalam pengertian harfiah.

Namun, di abad modern ini, pengertian harfiah di atas berubah menjadi ‘sindiran’ tajam bagi mayoritas orang yang tak punya nyali dan tak peduli akan keadaan orang lain dan sekitarnya. Mereka seperti orang ‘mati’ rasa ketika di dalam bus diam saja menyaksikan seorang perempuan yang dicopet tasnya, atau melihat seorang laki-laki renta tak berdaya diintimidasi segelintir preman. Padahal jumlah mereka jauh lebih banyak ketimbang para kriminal tersebut.

Di benak mereka yang selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan, kaum silent majority adalah orang-orang yang berhati bersih dan masih punya nurani, sehingga pastinya ada di pihak mereka. Namun, benarkah selalu demikian? Siapa yang bisa menjamin bahwa silent majority ini sejalan dengan mereka, tidak justru malah bersimpati pada vocal minority?

Di dunia marketing dan advertising, di mana media sosial menjadi senjata pamungkas dalam menggali umpan balik dari konsumen, kerap kali suara dari vokal minority ‘disulap’ menjadi suara silent majority. Contohnya, ketika sebuah iklan TV dikomentari bagus oleh sebagian besar netizen yang nimbrung di kanal youtube tersebut, dengan penuh suka cita agency dan klien buru-buru menyatakan iklan TV-nya disukai (mayoritas) konsumen.

Pembaca, yang bisa kita pelajari dari silent majority adalah bahwa kita tidak pernah tahu pasti apakah mereka di pihak kita atau tidak. Apakah ciut nyalinya melihat agresivitas kaum vokal minority, atau malah justru berpihak pada mereka, atau bahkan tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi.

Bagi KataRupa, silent majority adalah tetap silent ‘mistery’ sampai mereka benar-benar menampakkan dirinya di dunia nyata, bukan dunia maya, dalam jumlah yang jauh berkali-kali lipat dari kaum vocal minority. Namun tentunya, bukan dalam rangka unjuk kekuatan fisik, tapi unjuk gerakan atau kegiatan yang bermanfaat dan bermartabat.

Punya pendapat lain?

Redaksi

Featured image: ilustrasi KataRupa

Video: politicalhack28

KATARUPA © COPYRIGHT 2017. ALL RIGHTS RESERVED

 

 

%d bloggers like this: